Duel PSS vs Persis – Panas di dalam Lapangan Berimbas ke Tribun Suporter
22
Apr
SLEMAN, Sambernyawa.com
– Duel panas yang tersaji antara kesebelasan PSS Sleman yang menjamu
tamunya Persis Solo dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama Liga Prima
Indonesia Sportindo (LPIS, red) Sabtu (21/4) sore di stadion Maguwoharjo
tidak hanya terjadi antar pemain kedua kesebelasan.

Dua kelompok suporter dari kedua kesebelasan, yaitu BCS (Brigata Curva Sud, red) PSS dan Pasoepati juga terlibat kericuhan bahkan hingga di luar stadion. Pertandingan yang berjalan keras menjurus kasar yang terjadi sejak awal pertandingan, dan ditambah kepemimpinan wasit Nendi Rohadi yang dianggap berat sebelah dinilai sebagai salah satu pemicunya.
Beberapa insiden yang menyulut emosi pemain dari kedua kesebelasan juga merembet ke tribun suporter. Kericuhan di tribun mulai terjadi pada saat babak pertama memasuki injury time. Tawuran antar suporter pun pecah.

Semula, Pasoepati yang berada di tribun timur saling lempar dengan Slemania yang menduduki tribun Utara. Polisi kurang sigap mencegah aksi tersebut. Akibatnya, aksi saling lempar semakin meluas. Tak berselang lama, giliran Brigata Curva Sud (BCS) yang menduduki tribun Selatan terlibat aksi saling lempar dengan Pasoepati.
Sepanjang turun minum, aksi saling lempar masih berlangsung. Kali ini terjadi antara Pasoepati dengan BCS. Sementara Slemania di tribun Utara sudah berhasil ditenangkan. Polisi sempat kewalahan menenangkan kedua suporter. Baik Pasoepati ataupun BCS semula tak bersedia ditenangkan.

Saat babak ke-dua akan dimulai, aksi lempar kedua suporter masih tak terelakkan. Bahkan, pemain Persis mendekati tribun Pasoepati untuk menenangkan suporter. Setelah berhasil diredakan, pertandingan babak ke-dua pun segera dilanjutkan.
Sepanjang babak ke-dua, pertandingan berjalan lancar. Tidak ada kericuhan dan tawuran yang terjadi antara Pasoepati, Slemania dan BCS.
Namun kericuhan kembali terjadi sesaat setelah pertandingan usai. Pasoepati yang hendak pulang diteror oleh BCS. Puluhan mobil dan motor yang berplat AD dirusak oleh anggota BCS, bahkan ada dua motor yang dibakar. Usut punya usut, ternyata dua motor yang dibakar tersebut milik anggota Slemania (Plat AB). Terdapat juga sebuah mobil Toyota Yaris yang kondisinya rusak parah dan hampir saja dibakar massa jika aparat tidak segera sigap untuk mengantisipasi aksi tersebut. Beruntung mobil tersebut berhasil diselamatkan dari amukan massa.
Puluhan kendaraan bermotor yang dirusak oleh anggota BCS terpaksa harus dievakuasi ke Polres Sleman, sementara puluhan Pasoepati yang masih berada di stadion Maguwoharjo dipulangkan memakai kendaraan Polisi.
“Motor yang dirusak akan kami evakuasi ke Polres Sleman dan bisa diambil Senin pekan depan,” ujar Kapolres Sleman AKBP Hery Sutrisman, Sabtu (21/4) malam di stadion Maguwoharjo.
Aksi pelemparan memang tidak hanya terjadi di seputaran stadion Maguwoharjo. Kericuhan antara Pasoepati dan pendukung Jogja juga terjadi di perbatasan Jogja-Klaten. Ribuan anggota Pasoepati yang terlebih dahulu bisa meninggalkan stadion mendapat lemparan batu dari oknum tak dikenal. Hal tersebut membuat panik warga yang tinggal di wilayah Kalasan dan Prambanan (perbatasan, red). Pasoepati yang mendapat lemparan tersebut akhirnya melakukan balasan untuk pembelaan diri.
Akibat kericuhan ini, banyak anggota dari dua kelompok suporter yang mengalami luka-luka. Bahkan dikabarkan terdapat beberapa anggota suporter Pasoepati yang dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI, red) Klaten. Sampai berita ini diturunkan, belum bisa dipastikan apakah terdapat korban jiwa dari insiden tawuran tersebut.

Dua kelompok suporter dari kedua kesebelasan, yaitu BCS (Brigata Curva Sud, red) PSS dan Pasoepati juga terlibat kericuhan bahkan hingga di luar stadion. Pertandingan yang berjalan keras menjurus kasar yang terjadi sejak awal pertandingan, dan ditambah kepemimpinan wasit Nendi Rohadi yang dianggap berat sebelah dinilai sebagai salah satu pemicunya.
Beberapa insiden yang menyulut emosi pemain dari kedua kesebelasan juga merembet ke tribun suporter. Kericuhan di tribun mulai terjadi pada saat babak pertama memasuki injury time. Tawuran antar suporter pun pecah.

Semula, Pasoepati yang berada di tribun timur saling lempar dengan Slemania yang menduduki tribun Utara. Polisi kurang sigap mencegah aksi tersebut. Akibatnya, aksi saling lempar semakin meluas. Tak berselang lama, giliran Brigata Curva Sud (BCS) yang menduduki tribun Selatan terlibat aksi saling lempar dengan Pasoepati.
Sepanjang turun minum, aksi saling lempar masih berlangsung. Kali ini terjadi antara Pasoepati dengan BCS. Sementara Slemania di tribun Utara sudah berhasil ditenangkan. Polisi sempat kewalahan menenangkan kedua suporter. Baik Pasoepati ataupun BCS semula tak bersedia ditenangkan.

Saat babak ke-dua akan dimulai, aksi lempar kedua suporter masih tak terelakkan. Bahkan, pemain Persis mendekati tribun Pasoepati untuk menenangkan suporter. Setelah berhasil diredakan, pertandingan babak ke-dua pun segera dilanjutkan.
Sepanjang babak ke-dua, pertandingan berjalan lancar. Tidak ada kericuhan dan tawuran yang terjadi antara Pasoepati, Slemania dan BCS.
Namun kericuhan kembali terjadi sesaat setelah pertandingan usai. Pasoepati yang hendak pulang diteror oleh BCS. Puluhan mobil dan motor yang berplat AD dirusak oleh anggota BCS, bahkan ada dua motor yang dibakar. Usut punya usut, ternyata dua motor yang dibakar tersebut milik anggota Slemania (Plat AB). Terdapat juga sebuah mobil Toyota Yaris yang kondisinya rusak parah dan hampir saja dibakar massa jika aparat tidak segera sigap untuk mengantisipasi aksi tersebut. Beruntung mobil tersebut berhasil diselamatkan dari amukan massa.
Puluhan kendaraan bermotor yang dirusak oleh anggota BCS terpaksa harus dievakuasi ke Polres Sleman, sementara puluhan Pasoepati yang masih berada di stadion Maguwoharjo dipulangkan memakai kendaraan Polisi.
“Motor yang dirusak akan kami evakuasi ke Polres Sleman dan bisa diambil Senin pekan depan,” ujar Kapolres Sleman AKBP Hery Sutrisman, Sabtu (21/4) malam di stadion Maguwoharjo.
Aksi pelemparan memang tidak hanya terjadi di seputaran stadion Maguwoharjo. Kericuhan antara Pasoepati dan pendukung Jogja juga terjadi di perbatasan Jogja-Klaten. Ribuan anggota Pasoepati yang terlebih dahulu bisa meninggalkan stadion mendapat lemparan batu dari oknum tak dikenal. Hal tersebut membuat panik warga yang tinggal di wilayah Kalasan dan Prambanan (perbatasan, red). Pasoepati yang mendapat lemparan tersebut akhirnya melakukan balasan untuk pembelaan diri.
Akibat kericuhan ini, banyak anggota dari dua kelompok suporter yang mengalami luka-luka. Bahkan dikabarkan terdapat beberapa anggota suporter Pasoepati yang dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI, red) Klaten. Sampai berita ini diturunkan, belum bisa dipastikan apakah terdapat korban jiwa dari insiden tawuran tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar